/* salju turun */ adnan: Keluarga

Sunday, January 4, 2009

Keluarga

Masih ingat sebuah sinetron zaman dahulu yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televise swasta di Indonesia berjudul “Keluarga Cemara”. Pada saat pembukaan di tayangkan sebuah adegan dengan sound track yang kalo ga salah bunyinya begini :

Harta yang paling berharga adalah keluarga…..
Istana yang paling indah adalah keluarga….

Begitu pentingnya keluarga hingga melebihi apapun yang ada di dunia ini. Keluarga, adalah lingkungan pertama yang kita singgahi sebelum ke lingkungan masyarakat yang lebih luas. Di sanalah kita belajar tentang bagaimana membedakan sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk. Di sana juga pertama kali kita mendapatkan curahan kasih saying dari orang tua kita ataupun kakak-kakak kita. Di sana juga kita belajar bagaimana memberikan kasih saying kepada orang yang kita sayangi.

Di dalam keluarga terdapat manusia-manusia yang paling saying kepada kita. Siapa lagi yang lebih besar kasih sayangnya daripada orang tua kita? Cinta mereka suci, murni, tidak mengharap apapun selain anaknya meraih kesuksesan. Apapun yang mereka lakukan adalah atas dasar kasing saying mereka yang ditujukan untuk kebaikan anaknya(meskipun kadang dilakukan dengan cara yang kurang benar). Dari mereka kita mendapatkan contoh bagaimana menjadi manusia sejati.

Kakak atau adik adalah teman kita paling baik. Memang, kadang terjadi pertengkaran yang membuat kita jengkel. Tetapi jika kita berfikir lagi, pertengkaran tersebut paling hanya terjadi satu hari saja, hari berikutnya sudah baikan lagi. Hal itu karena tertanamnya kasih saying yang besar dalam diri masing-masing. Adanya sebuah ikatan yang tidak dapat diputus oleh apapun kecuali kematian. Sering kita mendengar kata “mantan istri”, “mantan pejabat”, ”mantan polisi” dan lain sebagainya tetapi tidak akan pernah kita dengan “mantan kakak”, “mantan ibu”, “mantan anak”, “mantan adik”, “ ataupun “ mantan ayah.”

Keluarga, yang selalu mengerti di kala kita sedang sedih ataupun senang. Mereka, yang selalu dapat diandalkan pada situasi apapun. Jika kita kumpulkan seluruh harta yang ada di dunia ini untuk membalas kebaikan yang mereka berikan maka pastinya tidak akan cukup. Karena kebaikan tidak dapat diukur dengan harta duniawi. Ia hanya dapat dirasakan dan diresapi lalu kita mencontohnya sehingga semakin bertaburlah kebaikan di dunia ini.

Kadang kita terlalu pendek berfikir untuk menghakimi keluarga ketika mereka berbuat kesalahan. Keluarga juga manusia, tempatnya khilaf dan lupa. Kedekatan kita kepada mereka seharusnya membuat kita berfikir lebih panjang untuk menyalahkan mereka. Barangkali hal itu hanyalah salah paham yang bisa diselesaikan dengan keterbukaan dari masing-masing. Pola berfikir yang berbeda seharusnya membuat kita lebih dewasa dalam menghadapi segala macam permasalahan. Dahulu, sewaktu kecil sangat mengerti dan memaklumi apapun kesalahan yang kita lakukan maka ketika kita sudah dewasa dan mengerti tentang kesabaran maka sudah sepantasnya gentian kita yang mengerti dan memaklumi mereka.

No comments: