/* salju turun */ adnan: Psikologi

Sunday, October 12, 2008

Psikologi

Diri seorang manusia terdiri dari dua hal yang tidak bias dipisahkan, yaitu sisi fisik dan sisi psikis. Keduanya bertindak seperti barang komplementer di mana keduanya saling melengkapi. Jika salah satu tidak ada maka yang lain tidak akan memiliki nilai guna. Ibarat pulpen dengan tintanya, motor dengan bensinnya, ataupun peralatan elektronik dengan listriknya.

Akibatnya keduanya memiliki hubungan yang bersifat linear. Artinya jika salah satu merasakan sesuatu maka bagian yang lain akan ikut merasakannya. Sebagai contoh ketika kita berada pada suasana yang hangat di suatu daerah, sebenarnya kulit kitalah yang merasakan kehangatan itu tetapi perasaan di dalam hati dan pikiran akan ikut merasa hangat dan nyaman. Sebaliknya ketika kita sedang lari marathon dan hamper finish, sebenarnya tenaga yang masih tersisa sangat sedikit untuk menyelesaikan lintasan tetapi begitu melihat kekasih kita ada di pinggir lintasan dan member semangat maka perasaan bahagia meluap-luap. Badan yang tadinya lemas pun menjadi segar kembali dan entah darimana, stamina yang tadinya loyo menjadi muncul bahkan melebihi kondisi normal.

Hal di atas adalah contoh yang mempunyai nilai positif kepada keduanya. Bagaimana jika yang dirasakan adalah sesuatu yang negative? Apakah bagian yang lainnya juga ikut merasakannya? Jawabannya adalah : YA. Kita tentu pernah mengalami yang namanya sakit, entah sakit biasa atupun sakit yang sudah agak parah. Apa yang terjadi? Tidak hanya badan yang menjadi lemas tetapi juga psikis kita. Bias dibuktikan dengan cara, saat kita sedang sakit cobalah untuk belajar atau berkonsentrasi. Pasti akan sangat sulit.

Tetapi menurut beberapa orang yang sudah melakukan penelitian, keadaan psikis lebih dominan pengaruhnya terhadap fisik daripada sebaliknya. Kadang, jika kita bias membangun kondisi psikis yang kuat dan berdaya tahan tinggi maka akan sangat kecil kemungkinan fisik terkena sesuatu yang negative. Maka dari itu, banyak dokter yang menganjurkan kepada pasiennya yang sedang sakit untuk selalu menjaga perasaannya supaya tetap senang, bahagia, dan selalu optimis bahwa dirinya akan mebuh. Kondisi yang demikian akan mempercepat proses penyembuhan si pasien.

Atau jika kita sedang sehat dan kondisi psikis kita selalu terjaga maka kemungkinan sakit akan sangat kecil. Mungkin kita bias mengevaluasi diri kita sendiri bahwa kebanyakan orang sakit karena didahului oleh penurunan kondisi psikis. Sedang ada maslah misalnya, diputu pacarnya, dipecat dari pekerjaannya, mendapat nilai buruk saat ujian, tidak lulus ujia, dan lain sebagainya.

Maka pada dasarnya jika kita bias mengontrol kondisi psikis selalu prima maka kondisi fisik akan berbanding lurus dengannya.

No comments: